Bissmillah hirrahmannirrahim, jangan lupa setiap kita melakukan sesuatu awali dengan bassmallah, okey teman-teman semuanya bertemu lagi dengan saya khairunnisak di blog ini saya akan membahas tentang olahraga kesukaan saya.

Bye the way saya itu suka olahraga dalam bidang tenis meja (table tenis) atau bisa dibilang permainan bola pimpong, disini saya akan menceritakan asal muasal saya menyukai tenis meja. 5 tahun silam ketika saya duduk di kelas 2 Mtsn, saat malam hari minggu kami sebagai santri memiliki kegiatan rutin setiap minggunya yaitu muhadarah dan wajib nagi santri untuk turut hadir dalam muhadarah tersebut, sebelum kegiatan muhadarah dimulai kami diarahkan untuk berkumpul langsung didalam mushalla, lalu ketika saya sudah berada didalam mushalla teman dekat yang bernama salsa memanggil saya lalu berkata “icaa ikot ana yok ke gedung kelas anak cowok untuk seleksi tenis meja sama ustad, anti ikot juga mana tahu nanti lulus ” (menggunakan bahasa arab), saya menjawab “ana tidak bisa salsa terakhir ana main tenis meja sd, dan bola pimpongnya terbang ke atap ruangan”, lanjut salsa “tidak apa-apa ica, ikut saja kita sama-sama tidak bisa”, tanpa berfikir panjang lagi saya langsung mengiyakan ajakan salsa dan kebetulan diwaktu itu juga saya sangat malas untuk ikut serta kegiatan rutin muhadarah.

Setelah kami sampai di gedung cowok, kami langsung naik kelantai dua yang disana sudah berada ustad dan santriwan yang akan mengikuti seleksi juga, setelah bertemu dengan ustad dan kami berkumpul untuk mendengar arahan dari ustad. Beberapa saat setelah seleksi selesai dan di umumkan siapa yang lulus seleksi, dan Alhamdulillah saya lulus dan dua santriwan lainnya lulus tetapi tidak untuk salsa yang tidak lulus disaat mengikuti seleksi, jadi karena salsa tidak lulus mengikuti seleksi salsa tidak mengikuti tahap selanjutnya yaitu latihan setiap malam kamis sampai minggu setelah shala isya.

Keesokan malam kami berkumpul lagi diruang latihan lalu ustad memberi arahan dan berkata “kalian latihan tenis meja ini untuk persiapan mengikuti lomba porseni yang akan diadakan tiga bulan dari sekarang”, ya setiap malam yang sudah ditentukan atau malam yang memiliki waktu luang kami diajarkan oleh ustad cara-cara atau teknik-teknik dalam bermain tenis meja dengan benar dan diberitahu apa saja yang akan menambah point serta yang dapat mengurang point. Setelah beberapa malam kami latihan ustad memerintahkan saya untuk memilih satu santriwan lagi karena lomba meminta pemain tunggal dan ganda, akhirnya saya mendapatkan juga siapa yang bisa menjadi teman saya dalam bermain ganda.

Singkat cerita ketika waktu perlombaan tinggal menghitung minggu ataupun hari kami semakin sering berlatihan dan waktu berlatih kami ditambah diwaktu sore hari, jika ada kegiatan rutin seperti pramuka pada sore jumat kami tidak ikut karna atas arahan perintah ustad, pernah diwaktu saat saya berlatih sparing bola pimpong, saya memukul bola mengenai mata teman lawan sparing saya. Kami diajarkan cara smash dengan benar cara peletakan kaki agar nyaman saat bermain, terkadang ketika kami latihan dimalam hari, kami merelakan waktu tidur kami untuk berlatihan karena disaat kami kembali ke asrama, kawasan pesantren tidak ada lagi santri-santri yang berkeliaran semua sudah masuk ke dalam asrama untuk beristirahat tidur malam kecuali ustad ataupun bagian keamanan yang menjaga kawasan pesantren.

Malam hari perlombaan kami tidak latihan lagi agar keesokan harinya kami fresh dengan stamina yang cukup tetapi dipagi harinya kami berlatih sedikit-dikit untuk pemasan agar tidak kaku, kala itu kami mengikuti lomba di pesantren Darul Ulum yang berada di jambo tape, Oh iya kami mengikuti lomba dibagi menjadi 2 cabang yaitu aliyah putra putri dan tsawiyah putra putri, kami sendiri mewakilkan tsanawiyah dan yang aliyah diwakilkan oleh kakak kelas yang berlatih juga dengan kami.

Hari pertama kami mengikuti lomba Alhamdulillah lancar semua dan lanjut ketahap berikutnya yang dilanjutkan esok hari, keesokan harinya kami mengikuti lomba lagi dan Alhamdulillah semua masuk ketahap selanjutnya. Hari ketiga kami mengikuti lomba tenis meja, cabang dari aliyah putra putri jatuh ditahap semi final begitu juga dengan perwakilan tsanawiyah putra, saya dan teman yang bermain ganda dengan saya hanya yang lulus ketahap final, disanalah kami panik dan takut jika tidak menang mendapat juara satu, dan pada akhirnya Alhamdulillah usaha kami latihan dalam 3 bulan waktu yang singkat membuahkan hasil, kami menang juara pertama lalu lanjut ke tahap berikutnya yaitu lomba porseni di Subulussalam mewakilkan Banda Aceh.

Saya menyukai tenis meja karena saya bisa, dan saya menyukainya karena point yang ditampilkan langsung dan fakta apa yang terjadi dilapangan itulah point yang didapatkan.


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai